Pertunjukan Gandrung ini dilakukan dalam perayaan
desa setelah masa panen padi. Gandrung menunjukkan suka cita dan harapan
bersama masyarakat Sasak. Gandrung sekaligus juga merupakan ekspresi
simbolis masyarakat Sasak di Lombok (R. Diyah Larasati,
1996:16).Ekspresi simbolis lewat Gandrung bagi masyarakat Sasak
diwujudkan melalui dunia makna yang secara signifikan berada dalam
sistem ideasional yang juga terefleksikan dalam interaksi sosial.
Ditambah lagi adanya artefak yang melegitimasi keberadaan pertunjukan
itu di tengah-tengah para penikmatnya (R. Diyah Larasati, 1996:17).
Menurut R. Diyah Larasati, sistem ideasional yang dimaksud adalah
konteks berfikir serta gagasan-gagasan para pelaku pertunjukan Gandrung.
Dalam perspektif ini, Gandrung dipakai sebagai media untuk melepaskan
harapan dan suka cita. Alam yang terefleksi melalui harapan akan
melimpahnya panen padi, berusaha untuk dapat dikuasai dengan sebuah
keharmonisasian melalui ungkapan suka cita dalam seni pertunjukan ini.
Dalam pemikiran ini, alam dan manusia sebagai elemen kebudayaan mampu
membentuk suatu harmoni (R. Diyah Larasati, 1996:17).
Dilihat dari
asal-usul, Tari Gandrung yang terdapat di Lombok kemungkinan bukan
berasal dari kebudayaan asli Lombok (masyarakat Sasak). Hal ini bisa
dilihat dari adanya Tari Gandrung yang juga terdapat di beberapa daerah
lainnya, misalnya saja di Banyuwangi dan Bali. Beberapa budayawan atau
peneliti akhirnya mencoba menelusuri dan menafsirkan asal-usul Tari
Gandrung sehingga menjadi sebuah kebudayaan yang cukup sakral bagi
masyarakat Sasak di Lombok.
sumber: http://ratualfa.blogspot.com/2010/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar